Dia..
Seseorang yang dulu begitu gigih mengejarku,yang tak pernah menyerah dengan ribuan kata TIDAK yang kuucapkan kepadanya.
Diaku saat itu,dia yang mampu menemaniku sampai larut malam,diaku yang selalu mengingatkan aku pada tuhanku. Dia yang selalu membalas chatku bahkan sebelum aku selesai mengetiknya. Dia yang menjadikan aku prioritasnya.
Dan..
Entah mengapa aku mulai merasakannya berbeda. Dia yang lebih sering memilih teman-temannya dari pada chating lama-lama denganku. Dia yang sangat sulit kutemui meski rumahnya tidak begitu jauh dari sini. Aku berusaha memahaminya. Aku sadar bahwa dunianya bukan hanya tentang aku. Dunianya bukan hanya untuk membuatku tersenyum. Dia juga punya keluarga dan teman yang perlu dia bahagiakan juga.
Lalu chat kami kian melambat. Waktunya semakin jarang ku dapat. Tawanya, tatapannya dan suaranya semakin samar dalam ingat. Aku tahu semua orang akan berubah pada akhirnya. Cepat ataupun lambat. Entah itu baik atau malah semakin buruk. Tapi bukankah kita hanya perlu menyesuaikan perubahan itu. Jadi bisakah kita menghadapi perubahan itu atau tidak.
Meski begitu aku yakin dia bukan orang yang pandai mendua. Bukan. Dia bukan orang yang demikian. Meskipun mungkin dia pandai menyembunyikan rahasia. Hanya saja sebenarnya dia tidak terlalu pandai dalam mengatur waktunya antara diriku atau teman - temannya.
Jujur kadang aku cemburu. Jika boleh aku memutar waktu aku ingin menjadi temannya saja. Karena nyatanya menjadi temannya akan lebih mudah untukku mendapatkan perhatiannya,mendapatkan waktunya...
Priaku..
Aku mohon,aku ingin kamu yang dulu
Yang mampu membalas chatku lebih cepat dari menulisku.
Seseorang yang dulu begitu gigih mengejarku,yang tak pernah menyerah dengan ribuan kata TIDAK yang kuucapkan kepadanya.
Diaku saat itu,dia yang mampu menemaniku sampai larut malam,diaku yang selalu mengingatkan aku pada tuhanku. Dia yang selalu membalas chatku bahkan sebelum aku selesai mengetiknya. Dia yang menjadikan aku prioritasnya.
Dan..
Entah mengapa aku mulai merasakannya berbeda. Dia yang lebih sering memilih teman-temannya dari pada chating lama-lama denganku. Dia yang sangat sulit kutemui meski rumahnya tidak begitu jauh dari sini. Aku berusaha memahaminya. Aku sadar bahwa dunianya bukan hanya tentang aku. Dunianya bukan hanya untuk membuatku tersenyum. Dia juga punya keluarga dan teman yang perlu dia bahagiakan juga.
Lalu chat kami kian melambat. Waktunya semakin jarang ku dapat. Tawanya, tatapannya dan suaranya semakin samar dalam ingat. Aku tahu semua orang akan berubah pada akhirnya. Cepat ataupun lambat. Entah itu baik atau malah semakin buruk. Tapi bukankah kita hanya perlu menyesuaikan perubahan itu. Jadi bisakah kita menghadapi perubahan itu atau tidak.
Meski begitu aku yakin dia bukan orang yang pandai mendua. Bukan. Dia bukan orang yang demikian. Meskipun mungkin dia pandai menyembunyikan rahasia. Hanya saja sebenarnya dia tidak terlalu pandai dalam mengatur waktunya antara diriku atau teman - temannya.
Jujur kadang aku cemburu. Jika boleh aku memutar waktu aku ingin menjadi temannya saja. Karena nyatanya menjadi temannya akan lebih mudah untukku mendapatkan perhatiannya,mendapatkan waktunya...
Priaku..
Aku mohon,aku ingin kamu yang dulu
Yang mampu membalas chatku lebih cepat dari menulisku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar