Senin, 04 Juni 2018

Dialog Malam Dengan TUHAN


Aku masih disini,jika kamu ingin mengetahui.
Berjuang cukup keras untuk mengusir sepi yang kamu ciptakan. Berusaha memangkas semua resah dan tembok batas yang semakin meninggi. Berbisik kepada tuhan untuk segera dipertemukan.

Dan..
Bisikku malam ini. " Wahai Tuhan, bukan maksudku mendikte- MU , hanya saja jika boleh aku meminta, aku minta dia tuhan untuk mendampingiku nantinya. Menjadi sesuatu yang halal untukku. Yang akan menggenggam tangan kedua orang tuaku, dan meyakinkan bapakku bahwa dia akan menjaga putri kecilnya dengan baik. Jadikan dia orang yang akan aku lihat pertama kali setiap pagi saat aku membuka mata nantinya. Yang akan menggangguku ketika aku sedang memasak makanan kesukaannya, yang akan tetap makan masakannku meski nantinya tanpa rasa. Yang akan mengusap kepalaku ketika aku mencium tangan kanannya tiap dia pulang atau pergi bekerja.

Dan,jika bukan dia yang kau takdirkan untukku Tuhan. Aku tidak akan memaksa. Aku tahu engkau punya rencana yang lebih baik untukku. Hanya saja, jadikan masing-masing dari kami bahagia dengan pilihan kami nantinya. Lancarkan Rizkinya dan buat dia bahagia Tuhan. Jika nanti kami tidak berjodoh setidaknya aku pernah mencintainya. Karena jika memang nantinya bukan aku yang dia pilih untuk menemaninya di pelaminan, setidaknya wajah kita pernah saling berhadap-hadapan sebagai kenalan. 

Sudah begitu saja,agar semua terasa lebih ringan. Maafkan aku Tuhan,kadang aku suka resah dengan keadaan dan masa depan.


Meski begitu Tuhan. Aku bersyukur telah engkau pertemukan.

Selamat malam Tuhan. Dan selamat malam juga untukmu Tuan"

Semacam .....

Hay..
Lama tak jumpa bukan?
Dan semakin hilangan saja kemampuanku dalam hal mengingat segala sesuatu tentangmu.
Aku ingin kembali berada dalam jangkau matamu. Beberapa meter di depanmu.
Kita saling memandang, dan tersenyum.
Atau.
Hanya duduk berdampingan, menghadap ke arah jalan dan menikmati semua yang ada. Semisal senja.
Kita bisa bicarakan tentang nama bapak Somay yang lewat depan kita seolah-olah kita memang mengetahui namanya lalu di ujung cerita kita kembali tertawa bahagia.
Sederhana bukan cara membuatku bahagia?

Tiba-tiba rindu...
Rindu caramu bilang sayang..
Rindu ngobrol tidak jelas samapai larut malam.
Rindu caramu menatapku dan meyakinkanku, bahwa semua akan baik-baik saja, seolah tidak ada yang perlu dirisaukan.
Rindu caramu mengusap kepalaku dan hal itu selalu berhasil membuatku tenang.
Rindu caramu menggenggam tanganku, yang bahkan dikeramaian enggan kamu lepaskan.

Semacam rindu... ini berat.
Semacam hutang ini harus dibayar dengan pertemuan.
Sampai berapa lama lagi kamu mau membuatku menunggu?
Dan,kamu harus tahu, aku benci kondisi seperti ini. Semacam tidak ada kejelasan kepada siapa rindu ini harus di labuhkan.


Aku tidak terlalu pandai dalam hal menunggu. Karenanya.. segeralah bertemu.